PROSES PEMBUATAN KOMPOS
Kompos merupakan bahan
organik, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak,
batang jagung, serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh
mikroorganisme pengurai, dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan dalam
keadaan aerob atau anaerob, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki
sifat-sifat tanah. Proses perombakan secara aerob maupun anaerob membutuhkan
unsur N, P, dan K yang kemudian akan menghasilkan hara dan humus. Unsur N, P,
dan K dibutuhkan oleh mikroorganisme pengurai untuk proses metabolisme. Bahan organik
yang kaya kandungan karbon (C) mempunyai ciri-ciri berwarna merah coklat
seperti daun yang gugur, merupakan sumber energi bagi mikroorganisme. Bahan
organik yang berwarna hijau kaya kandungan unsur nitrogen (N). Unsur ini
digunakan untuk perkembangbiakan mikroorganisme pengurai (Kaleka, 2020)
Pengomposan adalah
penguraian biologis dari bahan organik menjadi produk yang stabil dan mirip
humus atau yang biasa disebut kompos. Pada dasarnya proses ini sama seperti
dekomposisi alami, namun ditingkatkan dan dipercepat dengan mencampurkan limbah
organik dengan bahan lain untuk mengoptimalkan pertumbuhan mikroba. Kompos,
sebagai bahan organik yang distabilkan, dapat diaplikasikan ke tanah, dengan
fungsi untuk memulihkan tanah yang terdegradasi atau mempertahankan /
meningkatkan kesuburan tanah, untuk penekan penyakit tanaman, menyerap karbon
ke dalam tanah sehingga mengurangi pemanasan global, dapat mengurangi biaya
produksi dan dampak negatif dari kegiatan pertanian dengan membatasi input
pupuk, pestisida, dan bahan bakar (Pergola et
al., 2018).
Pembuatan kompos dengan
cara konvensional membutuhkan waktu lama sehingga kurang efektif untuk
mengatasi masalah penumpukan sampah organik. Namun saat ini telah ditemukan EM4
(Effective microorganism 4) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus
Jepang. Larutan EM4 mengandung mikroorganisme fermentasi dan dapat bekerja
secara efektif dalam mempercepat proses fermentasi pada bahan organik. Proses
pembuatan kompos dengan menggunakan EM4 dapat lebih efektif dibandingkan dengan
cara konvensional dan dapat menghasilkan produk yang berkualitas apabila
dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat (Yuniwati
& Padulemba, 2012).
Pada Hari Jumat,
tanggal 16 Oktober 2020 telah dilakukan praktikum KPKT acara
III yaitu Membuat Kompos, dengan metode anaerob.
Alat
dan bahan:
1.
Ember dengan tutup
2.
Gelas
3.
Sendok
4.
Pisau
5.
Gunting
6.
Lateks
7.
Aktivator (EM4)
8.
Gula
9.
Air
10. Bahan
baku kompos berupa jerami, seresah, daun, dan dedak.
Cara kerja:
Semua bahan baku kompos dipotong
dengan ukuran yang kecil kemudian dicampur menjadi satu. Aktivator (EM4) diencerkan
dengan air dan larutan gula (perbandingan air : larutan gula: EM4 adalah
50:1:1). Setelah itu, dituang ke dalam ember yang berisi bahan baku kompos.
Bahan baku kompos dan aktivator dicampur hingga merata menggunakan lateks,
kemudian ember ditutup dengan rapat. Setelah 7 hari, kompos diperiksa dan dilakukan
pengadukan. Pada hari ke 14 dilakukan pengecekan kembali. Kompos siap dipanen
apabila sudah remah dan memiliki bau yang tidak menyengat.
- Dokumentasi
Daftar Pustaka
Kaleka, N. 2020. Pintar Membuat Kompos dari Sampah Rumah
Tangga & Limbah Pertanian/Peternakan. Pustaka Baru, Yogyakarta.
Pergola, M., A. Persiani, A. M. Palese, V. D. Meo, V. Pastore,
D’Adamo, C., & Celano, G. 2018. Composting: The way for a sustainable
agriculture. Applied Soil Ecology
123: 744-750.
Yuniwati, M., & A. Padulemba. 2012. Optimasi kondisi
proses pembuatan kompos dari sampah organik dengan cara fermentasi menggunakan
EM4. Jurnal Teknologi 5(2): 172-181.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar