Rabu, 02 Desember 2020

Membuat Kompos - Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

 

PROSES PEMBUATAN KOMPOS

Kompos merupakan bahan organik, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak, batang jagung, serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan dalam keadaan aerob atau anaerob, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Proses perombakan secara aerob maupun anaerob membutuhkan unsur N, P, dan K yang kemudian akan menghasilkan hara dan humus. Unsur N, P, dan K dibutuhkan oleh mikroorganisme pengurai untuk proses metabolisme. Bahan organik yang kaya kandungan karbon (C) mempunyai ciri-ciri berwarna merah coklat seperti daun yang gugur, merupakan sumber energi bagi mikroorganisme. Bahan organik yang berwarna hijau kaya kandungan unsur nitrogen (N). Unsur ini digunakan untuk perkembangbiakan mikroorganisme pengurai (Kaleka, 2020)

Pengomposan adalah penguraian biologis dari bahan organik menjadi produk yang stabil dan mirip humus atau yang biasa disebut kompos. Pada dasarnya proses ini sama seperti dekomposisi alami, namun ditingkatkan dan dipercepat dengan mencampurkan limbah organik dengan bahan lain untuk mengoptimalkan pertumbuhan mikroba. Kompos, sebagai bahan organik yang distabilkan, dapat diaplikasikan ke tanah, dengan fungsi untuk memulihkan tanah yang terdegradasi atau mempertahankan / meningkatkan kesuburan tanah, untuk penekan penyakit tanaman, menyerap karbon ke dalam tanah sehingga mengurangi pemanasan global, dapat mengurangi biaya produksi dan dampak negatif dari kegiatan pertanian dengan membatasi input pupuk, pestisida, dan bahan bakar (Pergola et al., 2018).

Pembuatan kompos dengan cara konvensional membutuhkan waktu lama sehingga kurang efektif untuk mengatasi masalah penumpukan sampah organik. Namun saat ini telah ditemukan EM4 (Effective microorganism 4) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Jepang. Larutan EM4 mengandung mikroorganisme fermentasi dan dapat bekerja secara efektif dalam mempercepat proses fermentasi pada bahan organik. Proses pembuatan kompos dengan menggunakan EM4 dapat lebih efektif dibandingkan dengan cara konvensional dan dapat menghasilkan produk yang berkualitas apabila dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat (Yuniwati & Padulemba, 2012).

 

Pada Hari Jumat, tanggal 16 Oktober 2020 telah dilakukan praktikum KPKT acara III yaitu Membuat Kompos, dengan metode anaerob.

Alat dan bahan:

1.      Ember dengan tutup

2.      Gelas

3.      Sendok

4.      Pisau

5.      Gunting

6.      Lateks

7.      Aktivator (EM4)

8.      Gula

9.      Air

10.  Bahan baku kompos berupa jerami, seresah, daun, dan dedak.

 

Cara kerja:

Semua bahan baku kompos dipotong dengan ukuran yang kecil kemudian dicampur menjadi satu. Aktivator (EM4) diencerkan dengan air dan larutan gula (perbandingan air : larutan gula: EM4 adalah 50:1:1). Setelah itu, dituang ke dalam ember yang berisi bahan baku kompos. Bahan baku kompos dan aktivator dicampur hingga merata menggunakan lateks, kemudian ember ditutup dengan rapat. Setelah 7 hari, kompos diperiksa dan dilakukan pengadukan. Pada hari ke 14 dilakukan pengecekan kembali. Kompos siap dipanen apabila sudah remah dan memiliki bau yang tidak menyengat.


  • Dokumentasi

                                                       
                           
                      
                            


 

Daftar Pustaka

Kaleka, N. 2020. Pintar Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga & Limbah Pertanian/Peternakan. Pustaka Baru, Yogyakarta.

Pergola, M., A. Persiani, A. M. Palese, V. D. Meo, V. Pastore, D’Adamo, C., & Celano, G. 2018. Composting: The way for a sustainable agriculture. Applied Soil Ecology 123: 744-750.

Yuniwati, M., & A. Padulemba. 2012. Optimasi kondisi proses pembuatan kompos dari sampah organik dengan cara fermentasi menggunakan EM4. Jurnal Teknologi 5(2): 172-181.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Problematika Kesuburan Tanah di Sekitar- Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

                                                       MASALAH KESUBURAN TANAH                    Pada hari Sabtu tanggal 7 November 2020, t...