Jumat, 04 Desember 2020

Problematika Kesuburan Tanah di Sekitar- Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

                                            MASALAH KESUBURAN TANAH       


        Pada hari Sabtu tanggal 7 November 2020, telah dilakukan praktikum KPKT acara 5 problematika kesuburan tanah di sekitar, yaitu dengan melakukan wawancara terhadap petani. Petani yang saya wawancarai bernama Ibu Jumiatin yang menjadikan bertani sebagai pekerjaan pokok. Ibu Jumiatin lebih memilih mengusahakan lahannya untuk ditanami padi. Oryza sativa L. dapat dianggap sebagai salah satu biji-bijian terpenting karena dikonsumsi oleh separuh populasi dunia. Di Asia khususnya beras merupakan komponen dasar dari makanan sehari-hari menempati salah satu posisi teratas komoditas dengan produksi dunia tertinggi (Lemus et al., 2014).

        Intensifnya penggunaan lahan tanpa adanya pergiliran tanaman dapat menyebabkan terkurasnya unsur hara esensial dari dalam tanah pada saat panen dan kesuburan tanah akan menurun secara terus menerus. Menurunnya kesuburan tanah dapat menjadi faktor utama yang mempengaruhi produktivitas tanah, sehingga penambahan unsur hara dalam tanah melalui proses pemupukan sangat penting dilakukan agar diperoleh produksi pertanian yang menguntungkan. Evaluasi status kesuburan untuk menilai dan memantau kesuburan tanah sangat penting dilakukan agar dapat mengetahui unsur hara yang menjadi kendala bagi tanaman. (Pinatih et al., 2015). Ibu Jumiatin menggunakan 2 pupuk yaitu organik dan anorganik. Pupuk organik yang digunakan yaitu pupuk kandang, sedangkan pupuk anorganik yang digunakan yaitu phonska dan urea. Beliau mengaplikasikan pupuk setelah 1 minggu masa tanam.

        Ibu Jumiatin bersama suaminya melakukan pengolahan lahan secara maximum tillage, yaitu dengan menggunakan traktor dan cangkul. Setelah padi disemai, kemudian ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Padi akan dipanen ketika sudah 3 bulan ditanam atau 90 hari. Produktivitas lahan pertanian milik beliau tergolong baik. Dalam pengusahaan lahannya Ibu Jumiatin menerapkan pertanaman monokultur, dengan pola pertanaman padi-padi-padi. Menurut Mudjiono (2013) konsentrasi spesies tanaman tunggal di areal yang luas dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan kenampakan tanaman ke serangga hama dan banyaknya spesies hama yang berkoloni. Penanaman tanaman secara monokultur dapat mengurangi tersedianya vegetasi alami yang merupakan daerah bagi musuh alami. Oleh karena itu dapat terjadi ledakan populasi hama tanaman.

        Dari segi kesuburan tanah, Ibu Jumiatin hanya menghadapi sedikit kekurangan air saat musim kemarau. Kekeringan dapat mempengaruhi produksi pangan. Dengan adanya perubahan iklim, masalah ini dapat diperparah sehingga air harus digunakan secara efisien. Tanah dapat berperan penting dalam produksi padi berkaitan dengan produktivitas air. Tekstur tanah dapat mempengaruhi kapasitas air tersedia tanah. Biasanya, tanah lempung mengandung lebih banyak bahan organik daripada tanah berpasir (Dou et al., 2016). Tanah pada lahan Ibu Jumiatin memiliki tekstur lempung liat berpasir dengan struktur gumpal membulat dan memiliki warna tanah coklat kehitaman. Kehilangan bahan organik ditambah dengan pemadatan tanah dapat secara signifikan akan mengurangi hasil panen. Tanah juga mempengaruhi pertumbuhan akar tanaman, organ utama dalam pengambilan air. Secara khusus, tekstur dan struktur tanah dapat mempengaruhi produksi akar. Biasanya, akar yang lebih besar memiliki potensi perpanjangan yang lebih besar dan karena itu dapat meningkatkan serapan air dan hara yang lebih baik, serta produksi akar secara keseluruhan. Pertumbuhan akar pada kultivar yang sama dapat bervariasi sesuai tekstur tanah (Dou et al., 2016). Beliau mengatakan bahwa permasalahan yang paling mengganggu adalah banyaknya hama. Hama yang menyerang padi beliau adalah wereng, ulat, siput, dan tikus. 

  • Dokumentasi
                                

 



Daftar Pustaka

Dou, F., J. Soriano, R. E. Tabien, and K. Chen. 2016. Soil texture and cultivar effects on rice (Oryza sativa, L.) grain yield, yield components and water productivity in three water regimes. Plos One 11(3):1-12

Lemus, C., A. Angelis, M. Halabalaki, and A. L. Skaltsounis. 2014. γ-Oryzanol: An attractive bioactive component from rice bran. In Wheat and Rice in Disease Prevention and Health (pp. 409-430). Academic Press.

Mudjiono, G. 2013. Pengelolaan Hama Terpadu. UB Press, Malang.

Pinatih, I. D. A. S. P., T. B. Kusmiyarti, dan K. D. Susila. 2015. Evaluasi status kesuburan tanah pada lahan pertanian di Kecamatan Denpasar Selatan. Jurnal Agroekoteknologi Tropika 4(4):282-292.


Uji Kesuburan Tanah- Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

UJI KESUBURAN TANAH

 

Kesuburan tanah merupakan  potensi tanah dalam menyediakan cukup unsur hara dalam bentuk yang tersedia dan seimbang untuk menjamin pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimum. Tanah memiliki tingkat kesuburan yang berbeda-beda, sehingga pengelolaan tanah secara tepat merupakan faktor penting dalam menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman. Evaluasi kesuburan tanah adalah proses penilaian mengenai masalah yang berkaitan dengan keharaan tanah dan pembuatan rekomendasi pemupukan. Kebutuhan unsur hara oleh tanaman yang digunakan untuk pertumbuhan dan produksinya bergantung pada kemampuan tanah dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman dan tidak selalu dapat terpenuhi. Penilaian evaluasi status kesuburan tanah dapat dilakukan melalui pendekatan uji tanah. Penilaian dengan menggunakan metode ini relatif lebih akurat dan cepat. Pengukuran sifat-sifat kimia tanah sebagai parameter kesuburan tanah kemudian ditetapkan dalam kriteria kesuburan tanah (Pinatih et al., 2015).

Pada hari Sabtu, 7 November 2020 telah dilaksanakan praktikum KPKT acara 1 Uji Kesuburan Tanah secara mandiri di Desa Sedayu, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan yaitu dengan metode wawancara terhadap petani. Saya mewawancarai salah satu petani di Desa Sedayu yang bernama Jumiatin. Komoditas yang diusahakan adalah tanaman padi (Oryza sativa). Beliau mengatakan belum pernah melakukan pengujian terhadap tanah pada lahan yang digarap. Hal ini karena kurangnya pengetahuan dan alat yang diperlukan untuk pengujian tanah. Sedangkan dalam pengolahan tanah, beliau dan suami menggunakan cangkul dan traktor.

Tanah pada lahan sawah milik Ibu Jumiatin cukup subur dan terdapat pengairan yang cukup, sehingga produktivitas juga lumayan tinggi sekitar 0.5 kg/m2. Mikroorganisme tanah dianggap sebagai indikator penting dalam penentun kualitas tanah. Dalam sistem tanam, mikroorganisme tanah sangat dipengaruhi oleh pengelolaan tanaman, termasuk pemberian pupuk. Perbedaan iklim dan ketersediaan oksigen tanah akan mempengaruhi respon yang lebih kuat dari mikroorganisme tanah terhadap masukan pupuk mineral dalam sistem padi sawah (Geisseler et al., 2017). Untuk menjaga kesuburan tanah dan tanamannya, Ibu Jumiatin menggunakan pupuk organik dan anorganik, yaitu pupuk kandang, urea, dan ponska. Beliau mengaplikasikan pupuk ketika 1 minggu setelah tanam. Penggunaan pupuk kimia dalam bertani akan memberikan hasil panen yang meningkat. Namun, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus pupuk anorganik tanpa tambahan bahan organik secara memadai pada lahan pertanian akan menurunkan kesuburan tanah. Pupuk kimia memiliki beberapa keunggulan yaitu pemberiannya dapat terukur dengan tepat, kebutuhan hara tanaman dapat terpenuhi dengan perbandingan yang tepat dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Sedangkan kelemahan dari pupuk anorganik yaitu hanya memiliki kandungan unsur hara makro (Kaleka, 2020).

Ibu Jumiatin biasanya mendapatkan penyuluhan mengenai pertanian dari dinas pertanian melalui kelompok tani. Pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh ditentukan oleh sumber daya manusia yang berada di dalamnya. Apabila sumber daya manusia memiliki motivasi tinggi, kreativitas, dan mampu mengembangkan inovasi, maka pembangunan pertanian dapat dipastikan semakin baik. Penyuluhan dilakukan untuk mengubah atau meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sesuai dengan perubahan indikator penilaian kelas kemampuan kelompok, maka penyuluh dituntut untuk meningkatkan profesionalisme sebagai petugas dengan memperkaya pengetahuan untuk mengimbangi teknologi yang sedang berkembang (Sukino, 2016).

  • Dokumentasi


  




 

 

Daftar Pustaka

Geisseler, D., B. A. Linquist, and P. A. Lazicki. 2017. Effect of fertilization on soil microorganisms in paddy rice systems–A meta-analysis. Soil Biology and Biochemistry 115:452-460.

Kaleka, N. 2020. Pintar Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga & Limbah Pertanian/Peternakan. Pustaka Baru, Yogyakarta.

Pinatih, I. D. A. S. P., T. B. Kusmiyarti, dan K. D. Susila. 2015. Evaluasi status kesuburan tanah pada lahan pertanian di Kecamatan Denpasar Selatan. Jurnal Agroekoteknologi Tropika 4(4):282-292.

Sukino. 2016. Membangun Pertanian dengan Pemberdayaan Masyarakat Tani. Pustaka Baru, Yogyakarta.

 

 

 

 

 


Rabu, 02 Desember 2020

Membuat Kompos - Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

 

PROSES PEMBUATAN KOMPOS

Kompos merupakan bahan organik, seperti daun-daunan, jerami, alang-alang, rumput-rumputan, dedak, batang jagung, serta kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai, dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan dalam keadaan aerob atau anaerob, sehingga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Proses perombakan secara aerob maupun anaerob membutuhkan unsur N, P, dan K yang kemudian akan menghasilkan hara dan humus. Unsur N, P, dan K dibutuhkan oleh mikroorganisme pengurai untuk proses metabolisme. Bahan organik yang kaya kandungan karbon (C) mempunyai ciri-ciri berwarna merah coklat seperti daun yang gugur, merupakan sumber energi bagi mikroorganisme. Bahan organik yang berwarna hijau kaya kandungan unsur nitrogen (N). Unsur ini digunakan untuk perkembangbiakan mikroorganisme pengurai (Kaleka, 2020)

Pengomposan adalah penguraian biologis dari bahan organik menjadi produk yang stabil dan mirip humus atau yang biasa disebut kompos. Pada dasarnya proses ini sama seperti dekomposisi alami, namun ditingkatkan dan dipercepat dengan mencampurkan limbah organik dengan bahan lain untuk mengoptimalkan pertumbuhan mikroba. Kompos, sebagai bahan organik yang distabilkan, dapat diaplikasikan ke tanah, dengan fungsi untuk memulihkan tanah yang terdegradasi atau mempertahankan / meningkatkan kesuburan tanah, untuk penekan penyakit tanaman, menyerap karbon ke dalam tanah sehingga mengurangi pemanasan global, dapat mengurangi biaya produksi dan dampak negatif dari kegiatan pertanian dengan membatasi input pupuk, pestisida, dan bahan bakar (Pergola et al., 2018).

Pembuatan kompos dengan cara konvensional membutuhkan waktu lama sehingga kurang efektif untuk mengatasi masalah penumpukan sampah organik. Namun saat ini telah ditemukan EM4 (Effective microorganism 4) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Jepang. Larutan EM4 mengandung mikroorganisme fermentasi dan dapat bekerja secara efektif dalam mempercepat proses fermentasi pada bahan organik. Proses pembuatan kompos dengan menggunakan EM4 dapat lebih efektif dibandingkan dengan cara konvensional dan dapat menghasilkan produk yang berkualitas apabila dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat (Yuniwati & Padulemba, 2012).

 

Pada Hari Jumat, tanggal 16 Oktober 2020 telah dilakukan praktikum KPKT acara III yaitu Membuat Kompos, dengan metode anaerob.

Alat dan bahan:

1.      Ember dengan tutup

2.      Gelas

3.      Sendok

4.      Pisau

5.      Gunting

6.      Lateks

7.      Aktivator (EM4)

8.      Gula

9.      Air

10.  Bahan baku kompos berupa jerami, seresah, daun, dan dedak.

 

Cara kerja:

Semua bahan baku kompos dipotong dengan ukuran yang kecil kemudian dicampur menjadi satu. Aktivator (EM4) diencerkan dengan air dan larutan gula (perbandingan air : larutan gula: EM4 adalah 50:1:1). Setelah itu, dituang ke dalam ember yang berisi bahan baku kompos. Bahan baku kompos dan aktivator dicampur hingga merata menggunakan lateks, kemudian ember ditutup dengan rapat. Setelah 7 hari, kompos diperiksa dan dilakukan pengadukan. Pada hari ke 14 dilakukan pengecekan kembali. Kompos siap dipanen apabila sudah remah dan memiliki bau yang tidak menyengat.


  • Dokumentasi

                                                       
                           
                      
                            


 

Daftar Pustaka

Kaleka, N. 2020. Pintar Membuat Kompos dari Sampah Rumah Tangga & Limbah Pertanian/Peternakan. Pustaka Baru, Yogyakarta.

Pergola, M., A. Persiani, A. M. Palese, V. D. Meo, V. Pastore, D’Adamo, C., & Celano, G. 2018. Composting: The way for a sustainable agriculture. Applied Soil Ecology 123: 744-750.

Yuniwati, M., & A. Padulemba. 2012. Optimasi kondisi proses pembuatan kompos dari sampah organik dengan cara fermentasi menggunakan EM4. Jurnal Teknologi 5(2): 172-181.

Selasa, 01 Desember 2020

Mengenal Pupuk - Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

 

JENIS-JENIS PUPUK DI INDONESIA

Pupuk adalah bahan kimia atau organisme yang berperan dalam penyediaan unsur hara bagi keperluan tanaman secara langsung atau tidak langsung. Pupuk anorganik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis, dan merupakan hasil industri. Sedangkan pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

Dengan perkembangan jaman, banyak ditemukan berbagai permasalahan akibat kesalahan manajemen di lahan pertanian yaitu pencemaran oleh pupuk kimia dan pestisida kimia. Penggunaan pupuk anorganik (N,P,K) secara terus-menerus dan berlebihan menyebabkan tanah menjadi keras dan produktivitasnya menurun. Unsur K dalam pupuk anorganik (N,P,K)  merupakan salah satu unsur hara yang mudah tercuci, sehingga tanah akan kekurangan unsur K yang dapat menurunkan kesuburan tanah. Pemakaian pupuk buatan (anorganik) oleh petani di Indonesia sangat dominan untuk meningkatkan hasil pertanian secara nyata dan cepat. Sebaliknya petani hampir melupakan pupuk organik karena responnya yang lambat dalam meningkatkan hasil (Dharmayanti et al., 2013). Akibat pemakaian bahan – bahan tersebut secara berlebihan juga akan berdampak terhadap kesehatan manusia akibat tercemarnya bahan–bahan sintesis. Usaha yang dilakukan untuk memperbaiki kesuburan tanah adalah dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk organik. Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang tidak terlalu tinggi, tetapi jenis pupuk ini mempunyai lain yaitu dapat memperbaiki sifat – sifat fisik tanah seperti permeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan kation – kation tanah (Roidah, 2013). Beberapa contoh pupuk dan spesifikasinya adalah sebagai berikut


1.     Pupuk NPK Phonska


Spesifikasi

  • Kadar N (Nitrogen)  : 15%
  • Kadar P2O5 (Fosfat) : 15%
  • Kadar  K (Kalium)   : 15%
  • Kadar S (Sulfur)      : 10%
  • Bentuk : granul
  • Larut dalam air
  • Berwarna merah muda
  • Dikemas dalam kantong dengan isi 50 kg

2.    Pupuk ZA

Spesifikasi

  • Kadar Nitrogen minimal 20,8%
  • Kadar belerang minimal 23,8%
  • Kadar air maksimal 1%
  • Kadar Asam Bebas sebagai H2SO4 maksimal 0,1%
  • Berbentuk kristal
  • Tidak higroskopis
  • Mudah larut dalam air
  • Warna Produk non subsidi : putih
  • Warna Produk bersubsidi :merah muda
  • Dikemas dalam kantong bercap Kerbau Emas dengan isi 50 kg

3.      Pupuk Urea

Spesifikasi
  • Kadar air maksimal 0,50%
  • Kadar Biuret maksimal 1%
  • Kadar Nitrogen minimal 46%
  • Bentuk butiran tidak berdebu
  • Warna putih (non subsidi)
  • Warna pink untuk Urea Bersubsidi
  • Higroskopis
  • Mudah larut dalam air
  • Dikemas dalam kantong dengan isi 50 kg 

4.      Pupuk ZK

          


Spesifikasi 
  • Kadar kalium K20 : 50%
  • Kadar Sulfur : 17%
  • Bentuk : Serbuk
  • Warna : Putih
  • Kelarutan dalam Air : 9,205gr/100ml H2O
  • Dikemas dalam kantong dengan isi 50 kg 

5.       Pupuk SP 36

Spesifikasi
  • Kadar P2O5 total minimal 36%
  • Kadar P2O5 larut Asam Sitrat minimal 34%
  • Kadar P2O5 larut dalam air minimal 30%
  • Kadar air maksimal 5%
  • Kadar Asam Bebas sebagai H3PO4 maksimal 6%
  • Bentuk butiran
  • Warna abu-abu
  • Tidak higroskopis
  • Mudah larut dalam air
  • Dikemas dalam kantong bercap Kerbau Emas dengan isi 50 kg

6.       NPK Pelangi (Non-Subsidi)

Spesifikasi

  •  Mengandung Nitrogen (N) sebesar 12%, Fosfat (P2O5) sebesar 12%, Kalium (K2O): 17%, dan Magnesium (Mg) sebesar 2%
  • Berwarna-warni
  • Berbentuk blending
  • Dikemas dalam kantong dengan isi 50 kg.
  • Tidak terdapat tulisan “Pupuk Bersubsidi Pemerintah”.
  • Dipasarkan dan dijual dengan merk dagang Pupuk NPK Pelangi
  • Dikemas dengan kantong berwarna kecoklatan dengan logo PT. Pupuk Kalimantan Timur

7.      Pupuk KCL

Spesifikasi

  • Kadar K2O : 60%
  • Warna : Merah / Putih
  • Bentuk : Kristal
  • Sifat : Larut dalam air
  • Dikemas dalam kantong bercap Kerbau Emas dengan isi 50 kg

8.      Pupuk Phonska Oca

 


 

Spesifikasi

  •        pH : 4 – 9

  • Mudah larut dalam air dan ramah lingkungan.

  • Tanpa residu.

  • Dikemas dalam botol ukuran 1 liter

Unsur Mikro

  • Fe total : 90 - 900 ppm
  • Mn total : 250 - 5000 ppm
  • Cu total : 250 - 5000 ppm
  • Zn total : 250 - 5000 ppm
  • B total : 125 - 2500 ppm
  • Co total : 5 - 20 ppm
  • Mo total : 2 - 10 ppm

Unsur Makro

  • N : 3 - 6 %
  • P2O5 : 3 - 6 %
  • K2O : 3 - 6 % 
  • Kadar C-Organik : min 6%

Unsur Tambahan

  •      Si total : Minimal 200 ppm
  •      Mg total : Minimal 200 ppm

9.      Pupuk Organik Petroganik

Spesifikasi

  •       C-organik : Minimal 15%
  •            C/N : ratio 15 - 25
  •            Kadar air : Maksimal 8-20% (kadar air rendah)
  •            pH : 4 - 9
  •            Warna : Coklat kehitaman
  •            Bentuk : Granul
  •            Dikemas dalam kantong kedap air 40kg

 

10.  Bioripah

Pupuk yang dilengkapi dengan mikroorganisme bermanfaat untuk tanah. Penambahan Bioripah mampu mengefisiensikan penyerapan pupuk kimia  yang ditambahkan ke dalam tanah.

Spesifikasi

  •            Komposisi : Bacillus sp., Ochrobactrum sp., Alcaligenes sp
  •            Bentuk  : Cair
  •            Dikemas dalam botol

 

11.  Pupuk Nutremag

 


 

Mengandung unsur mikro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman sehingga  walaupun digunakan dalam dosis yang rendah, mampu meningkatkan produktivitas  tanaman. Cocok untuk digunakan di tanah masam.

Spesifikasi

·         Kadar Zinc 17%, 
·         Kadar Boron 0,01%
·         Kadar Cooper 3%
·         Kadar Manganese 0,6%
·         Bentuk  : Granul
·         Warna : Putih keabuan

  ·         Dikemas dalam kantong plastik dengan berat 1kg

12.  Pupuk Rock Phospate

Spesifikasi

  • Kadar P2O5 : min. 28%
  • Kadar P2O5 larut asam sitrat: 14%
  • Kadar CaO : 46%
  • Kadar air : maks. 2%
  • Warna : kuning abu-abu
  • Bentuk : Tepung
  • Kemasan : karung plastik dengan berat 50 kg

 

13.  Pupuk Hayati Ecofert


 

Ecofert adalah pupuk hayati produksi Pupuk Kaltim yang mampu meningkatkan efesiensi pemupukan sehingga dapat menghemat pupuk NPK hingga 25% dari dosis standar dengan pemakaian Ecofert dosis 20-40 kh/ha saat pengolahan tanah. 

Spesifikasi

Ecofert mengandung bahan aktif 
·        Bacillus subtilis,
·        B. flexus,
·        Pseudomonas mendocina, 
·        Aspergillus niger. Ecofert
Berbentuk granul
Tersedia variasi kemasan 1 kg, 5 kg, dan 20 kg

14.  Biotara

Biotara adalah Pupuk Hayati yang adaptif dengan tanah masam lahan rawa, sehingga mampu meningkatkan produktivitas tanaman di tanah masam lahan rawa.

Spesifikasi

Biotara mengandung bahan aktif 
·         Trichoderma sp.
·         Bacillus sp, 
·         Azospirillum sp.
Berbentuk serbuk
Berwarna kehitaman,
Variasi kemasan: 2,5 kg dan 12,5 kg.

15.     Pupuk hayati Petro Bio Fertil

Spesifikasi

·           Bahan Aktif :
-Mikroba penambat N dan penghasil zat pengatur  tumbuh (ZPT)
-Mikroba pelarut fosfat.
-Mikroba perombak bahan organik.
·           Bahan Pembawa : Mineral dan bahan organik
·           Warna : Kecoklatan
·           Bentuk : Granul
·           Tersedia dalam kemasan: 2kg, 5kg, dan 10kg
·           Masa simpan : 1 tahun



Daftar Pustaka

Dharmayanti, N. K. S., A. N. Supadma, dan I. D. M. Arthagama. 2013. Pengaruh pemberian biourine dan dosis pupuk anorganik (N, P, K) terhadap beberapa sifat kimia tanah Pegok dan hasil tanaman bayam (Amaranthus sp.). E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika 2(3), 165-174.

PT. Petrokimia Gresik. 2019. Produk. https://petrokimia-gresik.com/product-category/pupuk. Diakses pada 25 Oktober 2020.

PT. Pupuk Indonesia. 2016. Produk. https://www.pupuk-indonesia.com/id/produk#produk-pupuk.  Diakses pada 25 Oktober 2020.

PT. Pupuk Kaltim. 2017. Pupuk Hayati. https://www.pupukkaltim.com/id/produk-distribusi-tentang-produk#tentang-produk-pupuk-hayati. Diakses pada 25 Oktober 2020.

PT. Pupuk Sriwidjaja. 2013. Produk Retail. http://www.pusri.co.id/ina/produk-produk-retail/. Diakses pada 25 Oktober 2020.

Roidah, I. S. 2013. Manfaat penggunaan pupuk organik untuk kesuburan tanah. Jurnal Bonorowo 1(1):30-43.


Problematika Kesuburan Tanah di Sekitar- Aya Shofiya A (18/4330437/PN/15754)-A5

                                                       MASALAH KESUBURAN TANAH                    Pada hari Sabtu tanggal 7 November 2020, t...